Kamis, 05 Agustus 2010

Kurikulum Pendidikan Berbasis Gender


Di dalam budaya kita yang dikenal dengan budaya patriakhi dimana keberadaan laki-laki lebih dominan daripada perempuan dalam hal perannya, selain itu juga ada stigma yang menyatakan bahwa ketika laki-laki diejek, dipukul dan dilecehkan oleh kawannya yang lebih besar, biasanya tidak ingin menunjukan bahwa ia sedih dan malu. Sebaliknya ia ingin tampak percaya diri, gagah, dan tidak memperlihatkan kekhawatiran dan ketidak berdayaannya.
Ini menjadi beban yang sangat berat bagi anak laki-laki yang senantiasa bersembunyi di balik topeng maskulinitasnya. Kenyataannya juga menunjukkan, menjadi perempuan pun tidaklah mudah. Stereotip perempuan yang pasif, emosional, dan tidak mandiri telah menjadi citra baku yang sulit diubah. Karenanya, jika seorang perempuan mengekspresikan keinginan atau kebutuhannya maka ia akan dianggap egois, tidak rasional dan agresif. Hal ini menjadi beban tersendiri pula bagi perempuan.
Keaadaan yang boleh dikatakan bias gender ini sesungguhnya tidak hanya merugikan perempuan yang selama ini dindentikan ketika berbicara tentang kesetaraan gender selalu diidentikan dengan masalah perempuan tetapi juga sebenarnya ketimpangan akan kesetaraan gender juga merugikan laki-laki.
Bias gender ini juga tidak hanya disosialisasikan dalam lingkungan keluarga dan masyarakat saja tetapi juga dalam lingkungan formal di bidang pendidikan seperti halnya di lingkungan sosial. Salah satu hal yang menjadi perhatian penting ketika bias gender terjadi di lingkungan sekolah, yaitu terhadap buku ajar yang selama ini selalu memberi gambaran maupun rumusan masalah yang bias gender, seperti diindentikan bahwa tugas anak laki-laki dipekarangan membantu ayah sedangkan tugas anak perempuan adalah membantu ibu di dapur selain itu ada gambaran bahwa seorang pilot selalu laki-laki karena pekerjaan pilot memerlukan kecakapan dan kekuatan yang “hanya” dimiliki laki-laki. Sedangkan dalam rumusan kalimat kita dapat melihat bias gender seperti dalam kalimat "Ini ibu Budi" dan bukan "ini ibu Suci", "Ayah membaca Koran dan ibu memasak di dapur" dan bukan sebaliknya "Ayah memasak di dapur dan ibu membaca koran", masih sering ditemukan dalam banyak buku ajar atau bahkan contoh rumusan kalimat yang disampaikan guru di dalam kelas. Rumusan kalimat tersebut mencerminkan sifat feminim dan kerja domestik bagi perempuan serta sifat maskulin dan kerja publik bagi laki-laki.
Singkatnya, ada aturan-aturan tertentu yang dituntut oleh masyarakat terhadap perempuan dan laki-laki. Jika perempuan tidak dapat memenuhinya ia akan disebut tidak tahu adat dan kasar. Demikian pula jika laki-laki tidak dapat memenuhinya ia akan disebut banci, penakut atau bukan laki-laki sejati.
Melihat fenomena diatas tentunya ada beberapa upaya agar ketidakadilan dan ketidaksetaraan gender (bias gender) di bidang pendidikan yang dapat diminimalisir dan membutuhkan perhatian khusus, bukan hanya dari pihak sekolah semata tetapi juga keterlibatan dari orang tua dan pemerintah (dalam hal ini peran dari Departemen Pendidikan Nasional) baik pusat maupun daerah dalam menjalankan pengarusutamaan gender di lingkungan pendidikan formal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar