Perhatian publik pecinta film sempat terfokus ketika para cineas dan animator Indonesia membuat Film Animasi yang sangat mernarik dan menggunakan teknologi yang cukup canggih, sempat beredar pula kabar bahwa para animator yang menggarap film animasi ini adalah para animator yang menggarap beberapa film animator terkenal dan masuk jajaran box office di Hollywood. Film Animasi yang sempat menyedot perhatian publik Indonesa ini berjudul “Meraih Mimpi” dengan cerita yang berlatrkan cerita anak-anak yang hidup di sebuah kampung. Ringkasan cerita dari film ini mengisahkan Dana, gadis belia penuh mimpi dan cerdas yang diperankan penyanyi Gita Gutawa menjadi tokoh yang patut dicermati setiap tutur dan tingkah lakunya, kepandaiannya mengalahkan siswa-siswa lelaku di sekolahnya seolah menjadi satu bukti pembelajaran gender yang hingga kini terus dibahas.
Harapannya setinggi langit, seperti ingin mendapat beasiswa, lalu membebaskan desanya dari kemiskinan menjadi modal bahwa perempuan juga memiliki peran penting dalam kehidupan. Inilah gambaran sederhana dari film animasi garapan anak negeri ‘Meraih Mimpi’ yang kini sudah diputar di sejumlah bioskop di Indonesia itu.
Film animasi musikal tersebut diangkat dari novel Sing To The Dawn karya Minfong Ho, novelis kelahiran Myanmar yang besar di Thailand. Film ini dibuat oleh animator Indonesia di studio animasi Infinite Frameworks (IFW) di Nongsa, Batam. Sejak awal, film ini memang dirancang untuk dua versi bahasa Inggris dan Indonesia. Film Sing To The Dawn diluncurkan lebih dulu di Singapura pada 2008 dan kini Meraih Mimpi di Tanah Air.
Selain sebagai hiburan keluarga, film ini juga mencoba menebarkan nilai-nilai kesetaraan gender pada anak-anak. Sebagai tokoh utama, Gita Gutawa hadir lewat dialog yang cenderung feminis. Sebagian bisa dibuat santai dan mengalir, namun ada beberapa yang terasa berlebihan untuk ukuran gadis di kampung. Hidup di desa dan keluarga yang amat kolot, membuat posisi perempuan hanya sebagai konco wingking (teman belakang.red) alias kelas dua. Ayahnya, yang diperankan oleh Uli Herdinansyah, penemu ala Lang Ling Lung dalam kisah Donal Bebek berprinsip ide bahwa perempuan bisa melakukan apa saja itu gila dan omong kosong. Untung ada sang nenek yang diperankan sangat apik oleh Jajang C. Noer. Dia diam-diam menyuntikkan semangat kepada Dana ‘Kamu pasti bisa meraih mimpi-mimpimu’.
Suatu kali, warga dikejutkan dengan kehadiran Pairot yang dimainkan Surya Saputra. Pengusaha itu menyodorkan surat wasiat yang mengatakan bahwa dia adalah ahli waris kampung yang kini ditinggali Dana. Penduduk dipaksa hengkang karena rumah mereka akan dirobohkan. Pairot berambisi menyulap desa yang berlatar di Batam, Kepulauan Riau itu menjadi pusat perjudian.Situasi seperti ini membutuhkan seorang pahlawan. Sejak awal film sudah bisa ditebak, siapa yang kelak menjadi penyelamat kampung. Bukan dengan kekuatan fisik, melainkan dengan kecerdasan.
Fenomena lahirnya film diatas yang bernuansa mewujudkan kesetaraan gender dan secara tidak langsung memberikan pendidikan bagi para penoton bahwa kesetaraan gender itu memang diperlukan sperti halnya melalui kesetaraan dalam mengakses pendidikan tanpa perlu memunculkan diskriminasi bagi permpuan khususnya. Kebradaan film ini tentunya juga memunculkan cara baru untuk mengajarkan pendidikan gender bagi masyarakat yang tidak lagi terlihat konservatif seperti di kelas, ruang seminar atau forum-forum kajian formal lainnya.
Melaui film sebenarnya nilai-nilai yang ingin disampaikan oleh pembuat film akan cepat masuk dan diterima oleh penonton karena film dalam banyak hal merupakan media representasi yang paling visible, persuasif dan paling banyak dikonsumsi oleh masyarakt dewasa ini. Film paling menonjol dalam menangkap realitas kehidupan dibandingkan sarana ekspresi dan reperesntasi lainnya, selain itu film juga dapat mengkonstruksi apa yang menjadi keyakinan suatu komunitas tentang nilai-nilai yang ada dalam komunitas tersebut (dalam film “Meraih Mimpi” dapat dikatakan bahwa budaya patriakhi tidak baik bagi siapa pun baik laki-laki sendiri bahkan juga perempuan). Dengan dasar inilah sebenarnya film dapat mempengaruhi para penonton agar memahami nilai-nilai yang ada baik dalam nilai-nilai yang positif maupun negatif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar