Selasa, 03 Agustus 2010

Pemberdayaan Perempuan dalam Membangun Budaya Anti Korupsi

Apa sebenarnya budaya anti Korupsi itu? Banyak orang sering mengatakan bahwa korupsi itu adalah budaya dalam masyarakat. Namun menurut saya tidak sepantasnya kita mengatakan demikian, karena bagi saya budaya itu pada dasarnya adalah sesuatu yang baik dan merupakan hasil karya, cita, dan rasa bagi manusia. Bila ada kesalahan pada budaya tersebut bukan merupakan kesalahan budaya sebagai struktur masyarakat namun individu-individulah yang merusak struktur budaya tersebut. Karena itulah sudah saatnya kita membangun budaya yang baik dalam masyarakat seperti budaya anti Korupsi. Tentu saja ini dimulai dari konstruksi masyarakat yang paling kecil yaitu keluarga disini perempuan mempunyai andil yang besar dalam melakukan pembelajaran anti korupsi tersebut. Membudayakan sejak dini anti korupsi akan membuat kita dikemudian hari terbiasa berlaku jujur dan bertanggung jawab.

Bagaimana seharusnya budaya anti korupsi itu bekerja? Seperti yang kita ketahui bersama bahwa budaya anti korupsi di negara kita ini baru saja kita mulai bersama harapanya ini akan terus berjalan. Klo benar Korupsi itu Budaya maka satu-satunya cara yang harus kita lakukan adalah melawanya dengan budaya yang baru. Ini adalah sebuah bentuk perlawanan yang orang biasa menyebutnya “Conter Culture”. Sekarang ini banyak sekali beberapa lembaga mengambil kerja besar ini seperti adanya “Pendidikan Anti Korupsi”, adanya “mata kuliah anti korupsi” di beberapa universitas, sampai dengan shortcourse anti korupsi. Memang tidak salah itu semua dilakukan namun harapanya ini bukan hanya merupakan budaya uforia semata namun juga merupakan bentuk ideologisasi terhadap perlawanan terhadap segala bentuk korupsi di negara ini, bukan hanya terjebak pada teori-teori semata. Banyak kerja yang harus kita lakukan dalam rangka meningkatkan dan membudayakan anti-korupsi. Namun yang terpenting adalah bagaimana kita melakukan ideologisasi di dalam keluarga mengenai anti-korupsi.
Bagaimana cara menanamkan ideologisasi anti korupsi dalam keluarga? Sebagaimana kita ketahui bahwa kehidupan masyarakat yang pragmatis membuat masyarakat mencoba cara termudah untuk mendapatkan apa yang ia inginkan dengan mudah tanpa ingin kerja keras. Desakan ekonomi yang semakin berat juga membuat kita menjadi semakin tertekan dalam menjalani hidup ini, namun desakan ekonomi bukan satu-satunya penyebab korupsi tapi “ketamakanlah” awal dari korupsi itu berlangsung. Begitu kompleknya permasalahan latar belakang korupsi karena itulah kita harus sejak dini memulai ideologisasi anti korupsi ini di mulai dari keluarga, karena disitulah pertama kalinya kita memulai seluruh pembelajaran bermasyarakat, serta memulai pembelajaran etika dan moral. Keluarga menjadi kunci utama dalam melatih kita bersikap, berpendapat dan bertanggung jawab. Bersikap sederhana membuat kita menjadi tidak bersikap tamak dan sombong dalam menjalani hidup ini, biasa mengatakan apa yang menurut kita benar sebuah, pembelajaran kita berpendapat secara jujur tanpa adanya dusta, Bertanggung jawab didalam sikap sehari-hari membuat kita selalu berkerja keras untuk mendapatkan yang kita inginkan dan mengetahui mana yang merupakan hak kita mana yang bukan merupakan hak kita melaikan hak orang lain. Tiga sikap hidup ini merupakan bentuk bagaimana kita memulai menanamkan ideologi anti korupsi.
Bagaimana peran perempuan dalam penanaman ideologi anti korupsi? Keluarga memiliki arti penting dalam penanaman etika dan moral selain itu keluarga juga memiliki andil besar dalam penanaman ideologi. Keluarga tentu saja tidak dapat dilepaskan dari andil perempuan, yang paling penting adalah peran ibu atau isteri. Ibu adalah merupakan tempat semua jawaban awal ketika seseorang memulai masyarakat. Ibu juga merupakan tempat membuka komunikasi dan mencari informasi awal segala jawaban yang ingin ditanyakan dalam kondisi masyarakat. Sebab itulah fungsi ibu sangat krusial sekali dalam perkembangan kepribadian seseorang dan penanaman ideologi. Termasuk dengan mengajarkan dan menamkan sikap ideologis anti korupsi, ibu menjadi gambaran awal representasi masyarakat. Seseorang pada awalnya akan meniru atau mengikuti sikap ibunya, karena dialah representasi terdekat gambaran masyarakat. Karena itulah sudah seharusnya para ibu mampu memberikan pendidikan dan contoh yang baik tentang penanaman etika dan moral. Tidak justru memberikan contoh yang kurang baik seperti bergaya hidup glamor dan berlebih-lebihan serta diajarkan berbohong dalam bentuk yang kecil. Ini merupakan cara mendidik dan menanamkan ideologi yang salah terhadap karena dapat menyebabkan anak menjadi pemalas dan tidak mau bekerja keras untuk mendapatkan yang ia inginkan karena semuanya sudah ada dan disediakan oleh keluarganya. Namun yang paling penting sejak dini sudah seharusnya seorang perempuan dalam rumah tangga mengajarkan tentang arti hak dan kewajiban serta mengetahui batasannya. Sehingga penanaman ideologi tentang budaya anti korupsi ini akan berjalan dengan lebih baik.
Bagaimana cara memberdayakan perempuan dalam membangun budaya anti korupsi? Berbicara soal membangun budaya anti korupsi, tentu saja banyak hal yang dapat kita perbuat. Mulai dari mengikuti pendidikan, seminar, workshop, shortcourse anti korupsi. Namun semua itu tidak akan berjalan effektif bila habit/kebiasaan masyarakat sudah terlalu nyaman dengan korupsi baik sekala kecil maupun besar. Memang mungkin benar apa yang dikatakan beberapa orang bahwa korupsi ini memang tidak dapat dihapuskan seluruhnya, namun itu bisa di minimalkan seminimal mungkin. Tapi ada syaratnya yaitu mulai pendidikan dan penanaman ideologisasi anti korupsi dari keluarga dan tentu saja ini tidak dapat dilepaskan dari peran seorang perempuan. Sudah saatnya mulai diafirmasi untuk mendapatkan pendidikan dan pemahaman anti korupsi, karena seperti yang kita ketahui bersama bahwa perempuan merupakan fondasi awal membangun kehidupan berbangsa dan bernegara untuk mencapai kesejahteraan dan keadilan sosial bagi suatu negara. Bila kita tidak mulai mengafirmasi sejak sekarang maka sudah barang tentu generasi kedepan tidak akan jauh berbeda dalam memahami ideologisasi anti korupsi.
Akhirnya bahwa korupsi memang merupakan musuh kita bersama dan harus kita lawan bersama baik melalui “conter culture” maupun “Ideologisasi” anti korupsi. Dan semua itu tentu saja bukan dimulai dari pendidikan formal, tapi dimulai dari pendidikan non-formal seperti keluarga. Karena hanya dalam keluargalah kita mampu memulai penanaman nilai-nilai etika maupun moral. Didalam keluarga kita tidak mungkin dapat mengesampingkan peran perempuan (ibu,isteri), sebagi tempat informasi dan komunikasi awal seseorang. Sebab itulah sudah saatnya kita mulai mengafirmasi dan mendekonstruksi peran dan paradigma perempuan hanya sebagi pendidik dan pengasuh anak tetapi juga perempuan sekarang harus juga dapat menanamkan Budaya dan ideologisasi anti korupsi

Ditulis oleh Dimas Satrio Budi Utomo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar